Long Time No See…

Assalamualaikum Warahmatulloh….

Hello readers…
Bagaimana kabar kalian semua? Baik bukan?
Sudah lama sekali saya tidak menulis sesuatu di blog ini. Fuuhh…fuuhh… *tiup debu*

Sebenarnya sejak Desember 2015 yang lalu saya merantau ke Jakarta. Karena itu blog tidak terurus. Ampuuunnn… xD
Sudah lama sekali saya tidak menulis sesuatu, apapun itu. Sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan lainnya apalagi saya termasuk kategori gadis kebo (tidur mulu).

Saya rindu dengan blog ini, tulisan-tulisan saya, kegiatan menulis, blog walking (eh, bener gak sih?), dan lain-lainnya. Menulis membuat pikiran saya tenang 🙂

Sebenarnya kegiatan saya sekarang sudah lebih longgar. Yah…selain mengajar, saya juga sekarang lagi kena demam. Demam? Iya, demam game online wkwkwk
Jadi, saya sekarang berusaha sebisa mungkin untuk menulis lagi.

Ngomong-ngomong nanti saya akan menulis apa ya? Hmm… *mikir keras*
Ok, mikirnya nanti aja.

Segitu aja sih cuap-cuap pembuka tahun ini. See you next post :*

[#1 Event & Giveaway] Blooming Around The World

Yuk menulis sambil jalan-jalan keliling dunia

Blooming Into Words

Halo! Setelah lama tertidur dari terakhir kali muncul untuk membuat pengumuman penutupan pencarian staff BIW. Akhirnya, sekarang kami muncul kembali dengan membawa kabar gembira. Kabar gembiranya adalah … /drums roll/

Kita akan mengadakan event untuk pertama kali! Seperti judul postingan ini mungkin kalian sudah bisa menebak ya tema yang bakal kami ambil kali ini apa. Yep! Jalan-jalan. BIW akan mengajak kalian untuk jalan-jalan keliling dunia! Maka dari itu event pertama ini kami beri nama,

Blooming Around the World

View original post 712 more words

[Drabble] Guitar

Gambar

Tittle                         :  Guitar
Author                      :  shinyesungrin
Length                      :  Drabble
Genre                       :  Romance
Rating                      :  PG 13+
Cast                          :  Kim Jongwoon, Shin Sungrin
Author’s Note          :  Lagi-lagi drabble, lagi-lagi drabble! Hahahha… Mianhae

—————————————————————————————————————-

I’m fallin’in love
When you sing a song
I’m fallin’in love
When you smile with your heart
You’re the one like clouds
Keep my heart chilly
When the sun rise so bright
You’re like clouds
Save my heart
When the snow so cold
(Shin Sungrin, 16 Sept 2009)

            Senada dengan angin yang berhembus dengan sepoi-sepoi merayap menuju sungai yang bergemericik dengan indah menuju kolam-kolam rumah yang dihiasi dengan ikan-ikan kecil bercanda ria. Petikan senar-senar kekaguman menjadi sebuah rangkaian nada yang indah terbawa hembusan angin ke sudut relung hati para pujangga yang merindu pada sang kekasih hati yang telah lama tak saling jumpa. Nada itu mengalun dengan indah di antara senar-senar gitar kayu berwarna cokelat itu.

            Seorang pria bermata sipit dan berambut hitam yang memetik gitar duduk di bawah pohon yang rindang. Ia diam sejenak. Kemudian, memainkan gitarnya lagi tapi dengan nada yang lebih sedih kali ini. Wajahnya yang teduh nan sendu mengikuti irama lagu itu dengan mata terpejam. Terus dan menerus mengulangi lagu itu. Hingga tak terasa, air matanya mengalir deras tanpa suara dari bibirnya selain lirik lagu yang tanpa henti ia lantunkan.

            Angin yang berhembus sepoi-sepoi membawa sang pemetik gitar berhenti memainkan gitar kayunya. Bukan karena ia bosan, namun ia tertidur. Angin yang terus berhembus membuatnya nyaman menuju ke alam mimpi. Air matanya mengering akibat hembusan angin dan cuca yang cerah dihari itu.

            Tanpa ia sadari, seorang wanita bergaun putih menghampirinya dan duduk didepan sang pemetik gitar. Menatap sang pemetik gitar dengan senyum yang mengembang, senyum kesedihan sekaligus kebahagiaan. Wanita bergaun putih itu mengelus rambut pemetik gitar dengan lembut tanpa sedikitpun melepaskan pandangannya dari wajah sendu pria itu. Disentuhnya wajah sang pemetik gitar. Mata, hidung, pipi, hingga bibir sang pemetik gitar tak luput dari sentuhan jemari mungilnya yang berkilauan.

            “Oppa…”

            “Yesung Oppa…” wanita itu memanggil nama sang pemetik gitar dengan lirih.

“Saranghae… saranghae… saranghae!! Jeongmal!” ujarnya. Air matanya mengalir di sudut mata birunya.

Wanita itu mengangkat kepala pemetik gitar, Yesung, kepangkuannya. Ia duduk bersandar pada pohon pinus tempat bersandarnya Yesung dan memanjangkan kakinya.

“Ada apa denganmu?”

Wanita itu membawa Yesung dalam dekapannya, membawa kehangatan yang berbeda lebih dalam, merasakan wangi teduh tubuhnya. Wanita itu menutup mata perlahan, menyunggingkan senyum manis ditengah air mata yang menetes. Ia menatap langit biru yang cerah dibalik celah-celah dedaunan pohon tempat ia bersandar. Wajahnya berkilauan karena sinar ramah mentari. Ia memikirkan sesuatu.

“Sayangnya aku sudah tidak bisa bersahabat lagi dengan mentari!” ujar wanita itu menatap wajah Yesung, memperhatikan lekuk-lekuk indah wajahnya. Mengagumi senyum wajahnya juga suaranya yang indah.

Wanita itu mengusap keringat yang menetes didahi Yesung, hari semakin siang dan matahari semakin terik. Wanita itu sama sekali tak beranjak dari tempatnya, bahkan tak satupun kata keluar dari bibirnya. Ia hanya memandangi wajah Yesung seakan tak ada satupun hal yang membuat pria itu berbeda sejak pertama bertemu hingga perpisahan mereka. Tanpa merasakan bosan mengelus wajah pemilik hatinya, ia hanya melihat wajahnya dalam dan lebih dalam.

Cinta itu rumit bukan? Hanya berasal dari alat musik yang sederhana dari kayu. Hal itu muncul dan menempel pada hatinya.

“Sayangnya, aku tak bisa lagi menemanimu dan menemani setiap hari-harimu. Maafkan aku!” wanita itu mengucapkannya sedikit lebih terengah. Suaranya serak, ia sudah kehilangan sebagian tenaganya.

“Sayangku, sungguh. Aku memang sudah tak bisa bersahabat dengan mentari seperti dulu. Mentari, sahabat kita. Maafkan aku! Aku mencintaimu!” wanita itu bangkit dari duduknya dan memindahkan kepala Yesung bersandar kembali pada pinus.

Ia kemudian melangkahkan kakinya yang terlihat sangat ringan. Semakin lama semakin tak menyentuh tanah.

“Sungrin-ah… sungrin-ah… sayangku! Jangan pergi!” Yesung bersuara dalam mimpinya. Wanita itu menoleh. Wajahnya basah oleh air mata.

“Sayangku… jangan pergi!” Yesung mengerang. Ia masih tertidur.

Wanita itu mencoba menghempaskan tubuhnya ketanah berulang-ulang. Terus… terus… dan semakin lama semakin tak bisa. Waktunya memang sudah habis.

“Sayangku, aku mencintaimu dan selalu begitu”. Wanita itu menangis.

Kakinya menghilang, lalu semakin lama tubuhnya menghilang. Suara tangisannya tak mampu menghentikan. Ia menangis hingga tubuhnya menghilang dan tergantikan debu-debu halus yang jatuh ketanah.

THE END